Link: http://kutv.com/watercooler/watercooler_story_136083201.htmlOne of the victims daughters living in Indonesia was sent $100 a month, prosecutors said. The women legally arrived in the United States on B-1 visas in 2002; the Sabhnanis then confiscated their passports and refused to let them leave their home, authorities said. [1] "The conduct the defendants committed is monstrous," said Assistant U.S. Attorney Demetri Jones. "It's truly a case of modern-day slavery." Authorities said the victims' nightmare began after they were brought to the United States by the couple to work as house servants. They were told they would be paid 200 a month, although Samirah told authorities she later learned the Sabhnanis sent only half that amount to her daughter back in Indonesia Two Indonesian women were subjected to beatings and other abuse and forced by a couple to work in their home in a swank Long Island neighborhood without pay for several years, federal prosecutors said Tuesday. Authorities said they uncovered the abuse after police found one of the women wandering outside a doughnut shop on Sunday morning, wearing only pants and a towel. [3] 'No one would ever think that human beings were being brought into the U.S. and held for slave labour, beaten and tortured in a beautiful mansion right here in one of the most exclusive neighbourhoods on Long Island,' said federal prosecutor Demetri Jones. One of the two Indonesian women was beaten by Varsha Sabhnani with a broomstick, cut behind the ears with a knife, burnt with scalding water, made to walk up and down stairs as much as 150 times in a row, and, at one point, was forced to eat "25 extremely hot chili peppers," according to Jones and Lesko. The prosecutors submitted pictures showing what they said were the bruises and cuts inflicted on one of the women. [5] Attorney Charles A. Ross, who represents Varsha Sabhnani, called the couple "upstanding citizens'' and insisted "this is not a case of human trafficking.'' He also said the couple traveled extensively and that the two Indonesian women were free to leave whenever they wished. When one of the women escaped and was found wandering outside a Dunkin Donuts in Syosset on Sunday morning wearing only pants and a towel, employees called the police. The other woman was then discovered by authorities hiding in a 3-foot-by-3-foot closet under the stairs of the Sabhnani home, precisely where the couple told the two women to hide when they had visitors. NEW YORK: A multimillionaire Indian couple living in a posh locality here was arrested on the charges of keeping two Indonesian women as slaves and torturing at least one of them. [8] If convicted, each faces a sentence of between 17 and 22 years in prison. The two Indonesian women were told to hide in a 3-foot by 3-foot closet they shared with a storage chest when visitors came to the house, court papers said. They both entered the country on visas that had long since expired: "Samirah" five years ago and "Nona" two years ago. The case came to light when one of the women, identified only as Samirah, was seen wandering Sunday morning, wearing only pants and wrapped in a towel. Her face was bruised, and when shop employees tried to communicate with her, she made gestures of slapping herself and uttering what sounded to them like the word 'master', prosecutors said.[4] The reasons for the tortures included Varsha Sabhnani being unable to find an item of clothing or believing that the poorly fed women were stealing food, the prosecutors said. Her husband allowed the torture to go on and benefited from the household services of the women, according to Lesko. One of the victim's daughters living in Indonesia was sent $100 a month, prosecutors said.[3] If convicted, each faces a prison term of 17 to 22 years. It is alleged that Varsha forced the two to work from 4 in the morning to midnight and at least one victim told the prosecutors that she was beaten, tortured, denied food and forced to sleep in the kitchen.[8] The two women were kept indoors as domestic servants for five years, and were only allowed to go outside to walk the trash to the curb. It was later found through a federal investigation that both of them were beaten with a stick, forced to take up to 30 showers in three hours, and one of them was cut behind the ear with a knife and forced to eat 25 hot chili peppers as punishment for disobedience.[7] During the investigation, federal agents and Indonesian interpreters later discovered the slave-like conditions in the affluent Long Island home. Mahender Sabhani and his wife, Varsha, who are in the perfume business, were booked in a Federal Court on the charges of using threats of physical harm to obtain services. [8] The Sabhnanis were arraigned in U.S. District Court in Central Islip on charges under a federal anti-slavery statute of obtaining "the labor and services of another person by use of threats of serious physical harm to and physical restraint against that person. The wife is Indonesian; Mahender is from India. Varsha's cruelty included forcing Samirah to take as many as 30 ice-cold showers in a row, run up and down a flight of stairs 150 times as fast as she could - and gulp down at least 25 "extremely hot chili peppers at one time," according to the arrest warrant     Dua Pembantu Asal Indonesia Disiksa Majikan di New York New York (ANTARA News) - Dua perempuan warga negara Indonesia telah menjadi korban penyiksaan serta penyekapan oleh majikannya pasangan suami isteri yang tinggal di Long Island, Nassau County, negara bagian New York, demikian diungkapkan Kantor kejaksaan New York. Menurut laporan Associated Press, Selasa, kedua WNI yang menurut dokumen kantor jaksa bernama Samirah dan Nona, antara lain mengalami pemukulan, penyiraman dengan air panas, serta sejak selama lima tahun tidak diperbolehkan keluar rumah. Samirah dan Nona diketahui tiba di Amerika Serikat pada tahun 2002 secara legal dengan menggunakan visa B-1 dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada Varsha Mahender Sabhnani (35) dan suaminya Mahender Murlidhar Sabhnani (51). Pasangan Sabhnani, yang disebut-sebut warga kaya raya yang memiliki usaha di bidang parfum, dilaporkan kemudian menyita paspor Samirah dan Nona. Laporan menyebutkan bahwa selama bekerja pada keluarga Sabhnani, kedua perempuan Indonesia itu mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa secara terus menerus menaiki dan menuruni tangga, mandi 30 kali dalam waktu tiga jam, yang semuanya dimaksudkan sebagai hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan. Salah satu dari kedua korban juga dipaksa untuk memakan 25 cabai pedas sekaligus dan telinganya dilukai oleh pisau kecil. Kedua perempuan WNI juga dipaksa tidur di atas keset di dapur serta kurang mendapat makanan sehingga --seperti yang dituturkan kepada pihak kejaksaan, keduanya terpaksa mencuri makanan dan menyimpannya di tempat yang tidak diketahui majikan. Kasus itu mulai terkuak pada Minggu (13/5) ketika salah satu dari WNI terlihat mondar-mandir di depan sebuah kedai kopi di wilayah Syosset dengan hanya mengenakan celana dan sehelai handuk. Karyawan restoran yang melihat perempuan tersebut kemudian memberikan jaket, makanan, serta memanggil polisi. Pihak berwenang yang mengeluarkan surat perintah penggeledahan terhadap rumah Sabhnani pada hari yang sama kemudian menemukan perempuan WNI lainnya yang sedang bersembunyi di dalam lemari di bawah tangga menuju ruangan bawah tanah. Varsha dan Mahender Sabhnani oleh Pengadilan Distrik Central Islip akan dikenai tuduhan menyekap dua WNI yang bekerja pada mereka sebagai pembantu rumah tangga dan melarang mereka keluar rumah dengan alasan apapun --kecuali membawa sampah ke pinggir jalan. Samirah dan Nona dijanjikan gaji sebesar 200 dolar AS setiap bulan, tapi jaksa federal mengungkapkan bahwa keduanya tidak pernah diberi uang secara langsung oleh pasangan Sabhanani. Namun anak salah satu dari Samiran atau Nona yang tinggal di Indonesia dikirimi 100 dolar AS sebulan. Hingga Selasa sore belum diperoleh keterangan lebih lanjut dari pihak KJRI New York tentang keberadaan kedua WNI tersebut.(*     New York (ANTARA News) - Dua warga negara Indonesia korban penyekapan dan penyiksaan oleh majikannya, Samirah dan Enung (sebelumnya nama Enung oleh media AS disebut 'Nona'), masih berada dalam perawatan rumah sakit di New York dan dijaga ketat pihak keamanan. Samirah dan Enung tidak diperkenankan untuk ditemui oleh siapa pun dan pihak rumah sakit sendiri menolak memberikan keterangan menyangkut keberadaan keduanya. ANTARA yang mendatangi RS Nassau University pada Rabu siang untuk mencari keterangan tentang Samirah dan Enung, ditemui oleh pejabat Departemen Hukum, Mark S Brody, yang mengatakan pihak rumah sakit mendapat perintah dari Kantor Kejaksaan Long Island, Nassau County, untuk tidak memberikan keterangan apa pun kepada media massa. RS Nassau University di Nassau County, sekitar 50 kilometer dari kota New York, adalah tempat Samirah dan Enung -- sejak kedua WNI itu ditemukan pada Minggu (13/5) -- mendapatkan perawatan medis. Brody menolak menjawab pertanyaan apakah Samirah dan Enung masih berada di RS Nassau University maupun pertanyaan tentang kondisi keduanya. Ia hanya mengatakan kantor jaksa penuntut masih belum membolehkan 'pihak ketiga' menemui kedua WNI, karena keduanya merupakan saksi untuk kasus kejahatan yang ditengarai dilakukan oleh majikan mereka. Sementara itu, Asisten Jaksa Penuntut Long Island-Nassau, Mark Lesko, saat ditanya ANTARA juga menolak memberikan keterangan di luar masalah tuduhan yang akan dikenakan terhadap majikan Samirah dan Enung, yaitu pasangan suami isteri Mahender Murlidhar Sabhnani (51) dan Varsha Maender Sabhnani (45). "Dengan alasan kerahasiaan pribadi (privacy), saya tidak bisa bicara soal aspek kesehatan dalam kasus ini," ujarnya. Yang pasti, baik Brody maupun Lesko, menekankan bahwa dua perempuan WNI yang mereka tangani telah mendapatkan perawatan medis terbaik. Lesko juga menuturkan pasangan Sabhnani akan didakwa atas tindakan perbudakan dan mempekerjakan Samirah dan Enung `dengan menggunakan ancaman atau menyakiti secara fisik` serta melarang kedua pembantu rumah tangganya itu ke luar rumah selama bertahun-tahun. Satu-satunya pihak yang diperbolehkan menemui Samirah adalah Konsul Jenderal RI untuk New York, Trie Edi Mulyani, yang pada Rabu pagi hingga sore hari diketahui berada di RS Nassau University dalam upaya mendapatkan akses untuk menemui Samirah dan Enung. Satu hari sebelumnya, yaitu Selasa (15/5), pejabat bidang konsuler KJRI-New York yang mendatangi Nassau University Medical Center tidak diberi izin oleh pihak RS untuk menengok Samirah dan Enung yang sedang dirawat di RS tersebut. Mulai membaik Ketika dihubungi ANTARA, Trie Edi Mulyani membenarkan bahwa ia telah menemui kedua pasien namun belum sempat bercakap-cakap. "Saya belum bisa menanyai mereka, karena ketika tadi akhirnya saya bisa temui, dua-duanya sedang tidur lelap, mukanya terlihat sangat lelah," kata Trie. Ia mengatakan Samirah dan Enung dalam keadaan baik dan sudah tidak terlihat lagi tanda-tanda bekas penyiksaan di tubuh mereka. Menurut informasi yang dikumpulkan ANTARA dari berbagai sumber, Samirah dan Enung sudah dapat meninggalkan rumah sakit dalam satu atau dua hari mendatang. Kemudian mereka akan dipindahkan ke sebuah rumah di bawah pengawasan gugus tugas Departemen Kehakiman AS yang menangani masalah penyelundupan manusia. Pasangan Sabhnani yang disebut media massa AS sebagai multi jutawan yang memiliki bisnis internasional di bidang parfum dan dikendalikan dari kediaman mereka di kawasan elit Muttontown, Long Island, sejak Minggu hingga Rabu masih ditahan oleh polisi dan kemungkinan diancam hukuman penjara selama 17 hingga 22 tahun. Menurut pemantauan di lapangan, kediaman pasangan Sabhnani yang terletak di Jalan Coachman Place East No 205 maupun kompleks rumah mewah di Muttontown sendiri pada Rabu sepi, nyaris tidak terlihat warga yang berada di luar rumah. Salah satu warga yang tinggal di kompleks Muttontown, Phyllis Danzig, yang ditanyai ANTARA mengaku sudah mendengar kasus penyekapan dan penyiksaan seperti yang diberitakan oleh berbagai media massa AS. "Tapi saya tidak kenal mereka ini (pasangan Sabhanani, red)," katanya. Rumah Sabhnani, kendati terlihat sepi, di halaman sampingnya terlihat tiga mobil diparkir, yaitu Mercedes Benz 550, Cadillac Escalade dan Toyota SUV, semuanya berwarna hitam. Kompleks Muttontown terletak sekitar 23 kilometer dari RS Nassau University. Tak mengira Jaksa penuntut umum yang bersama-sama Mark Lesko menangani kasus penyekapan dan penyiksaan Samirah dan Enung, seperti dikutip Newsday.com mengatakan "Tidak ada yang mengira bahwa ada manusia yang dibawa ke Amerika Serikat dan dipekerjakan sebagai budak, dipukuli, disiksa di kediaman yang indah di sini, di salah satu kompleks paling eksklusif di Long Island". Menurut dokumen pengadilan yang dikeluarkan kantor kejaksaan federal, salah satu dari dua perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sabhnani mengalami pemukulan dengan tongkat, disayat atau dibeset dengan pisau, dan pada suatu ketika dipaksa untuk memakan '25 cabai yang sangat pedas'. Pihak berwenang seperti yang dilaporkan media massa AS, juga mengungkapkan bahwa kedua perempuan Indonesia mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa naik dan turun tangga sebagai hukuman, serta dipaksa mandi selama 30 kali dalam waktu tiga jam. Kasus penyekapan dan penyiksaan tersebut mulai terungkap ketika Samirah pada Minggu pagi ditemukan oleh karyawan Dunkin Donuts tengah mondar-mandir di depan kedai kopi yang berada di kawasan Syosset, sekitar 1,3 kilometer dari rumah majikannya di Muttontown. Kepada manajer Dunkin Donuts Adrian Mohammed -- yang kemudian memberinya jaket, donat, bagel, dan uang -- sempat memperlihatkan bekas-bekas penyiksaan ditubuhnya, seperti sisa siram air panas di tangannya serta bekas sobekan pisau di kulit telinga. Adrian kemudian memanggil polisi yang tak lama kemudian beserta ambulans datang membawa Samirah ke rumah sakit sementara Enung ditemukan kemudian setelah pihak berwenang mengadakan penggeledahan terhadap rumah Sabhnani pada hari yang sama. (*)      Members of ICE (Immigration and Customs Enforcement) search the home at 205 Coachman Place East of Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni, of Muttontown, charged with obtaining the labor and services of another person by use of threats of serious physical harm. (Photo by Howard Schnapp, Freelance) May 16, 2007  Members of ICE bring an unidentified woman into the home at 205 Coachman Place East of Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni, of Muttontown. (Photo by Howard Schnapp, Freelance) May 16, 2007  Members of ICE carry a door as evidence from the home of Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni. (Photo by Howard Schnapp, Freelance) May 16, 2007  Members of ICE take a door as evidence from the home at 205 Coachman Place East of Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni, of Muttontown. Both are accused of obtaining the labor and services of another person by use of threats of serious physical harm to and physical restraint against that person. (Photo by Howard Schnapp, Freelance) May 16, 2007  Handout provided by the Federal government that supposedly shows physical abuse allegedly committed by Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni in the back of one Indonesian woman. (Newsday / Alan Raia, Newsday / Alan Raia) May 15, 2007  Handout provided by the Federal government that supposedly shows physical abuse allegedly committed by Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni in the ear of one Indonesian woman. (Newsday / Alan Raia, Newsday / Alan Raia) May 15, 2007  Handout provided by the Federal government that supposedly shows physical abuse allegedly committed by Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni in the arm of one Indonesian woman. (Newsday / Alan Raia, Newsday / Alan Raia) May 15, 2007  Handout provided by the Federal government that supposedly shows physical abuse allegedly committed by Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni in the neck of one Indonesian woman. (Newsday / Alan Raia, Newsday / Alan Raia) May 15, 2007  Handout provided by the Federal government that supposedly shows physical abuse allegedly committed by Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni in the chest of one Indonesian woman. (Newsday / Alan Raia, Newsday / Alan Raia) May 15, 2007  Handout provided by the Federal government of the Muttonville home of Varsha Mahender Sabhnani and Mahender Murlidhar Sabhanni. It supposedly shows the tools used to allegedly enslave two Indonesian women. (Newsday / Alan Raia, Newsday / Alan Raia) May 15, 2007  Varsha Mahender Sabhnani, of Muttontown is scheduled to be arraigned later Tuesday in U.S. District Court in Central Islip on a charge of obtaining "the labor and services of another person by use of threats of serious physical harm to and physical restraint against that person" leaves Nassau County Police Headquarters. (Photo by Howard Schnapp) May 15, 2007  Mahender Murlidhar Sabhanni, of Muttontown is to be arraigned later this afternoon in U.S. District Court in Central Islip on a charge of obtaining "the labor and services of another person by use of threats of serious physical harm to and physical restraint against that person" leaves Nassau County Police Headquarters. (Photo by Howard Schnapp, Freelance) May 15, 2007            called 911," Mohammed said. At the Sabhnanis' arraignment in Central Islip yesterday, the couple sat together - but with separate lawyers.         | Nice presentation , thanks for sharing , sad to hear about the abuse of woman |
Comment deleted at the request of the author.
 |  Housekeepers held as slaves A multimillionaire Muttontown couple, who run an international business distributing perfume, were arrested yesterday by federal agents on charges of keeping two Indonesian women as slaves in their posh Long ... Full story: http://www.newsday.com/business/ny-bzslav165214619may16,0,3886037.story The resolution was co-sponsored by Afghanistan, Angola. Argentina, Azerbaijan, Belarus, Belgium, Benin, Bolivia, Burkina Faso, Central African Republic, Chile, Colombia, Ecuador, Haiti, Honduras, Indonesia, Kyrgyzstan, Liberia, Mexico, Monaco, Morocco, Panama, Senegal, Swaziland, Thailand, Togo and Venezuela.  |
 | they have to take this case very seriously because if that woman not get punishment she can do it again with other women so if she got punishment she gonna thinking milion time before she do it again |
 | sudah saatnya para orang kaya yang memperlakukan penbantu rumah tangganya dengan semena mena masuk penjara seumur hidupnya. Pembantu rumah tangga juga manusia yang butuh hidup dan dilindungi keberadaannya. |
 |  The two women were beaten and tortured by Nassau County couple Varsha Mahender Sabhnani, 35, and her husband Mahender Murlidhar Sabhnani, 51, and were kept from leaving the house unless it was to take out the trash. Both women are legal immigrants who migrated to the United States back in 2002. Since receiving the jobs, both women had their passports taken away from them by the Sabhnanis.  Menurut dokumen pengadilan yang dikeluarkan kantor kejaksaan federal, salah satu dari dua perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sabhnani mengalami pemukulan dengan tongkat, disayat atau dibeset dengan pisau, dan pada suatu ketika dipaksa untuk memakan '25 cabai yang sangat pedas'. Pihak berwenang seperti yang dilaporkan media massa AS, juga mengungkapkan bahwa kedua perempuan Indonesia mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa naik dan turun tangga sebagai hukuman, serta dipaksa mandi selama 30 kali dalam waktu tiga jam. Kasus penyekapan dan penyiksaan tersebut mulai terungkap ketika Samirah pada Minggu pagi ditemukan oleh karyawan Dunkin Donuts tengah mondar-mandir di depan kedai kopi yang berada di kawasan Syosset, sekitar 1,3 kilometer dari rumah majikannya di Muttontown.  |
 | KENAPA MAJIKAN KOK TIDAK ADA RASA KEMANUSIAAN , INI BUKAN JAMAN KOLONIAL TAPI JAMAN TECHNOLOGY YG CANGGIH |
 | Thanks Your So Much for gave me Comment Everyone
|
Comment deleted at the request of the author.
 | SANGAT KEJAM DAN TIDAK ADA RASA KEMANUSIAAN http://kutv.com/topstories/local_story_136130432.html <> VIDEO HSTORY  The two women were beaten and tortured by Nassau County couple Varsha Mahender Sabhnani, 35, and her husband Mahender Murlidhar Sabhnani, 51, and were kept from leaving the house unless it was to take out the trash. Both women are legal immigrants who migrated to the United States back in 2002. Since receiving the jobs, both women had their passports taken away from them by the Sabhnanis.  Menurut dokumen pengadilan yang dikeluarkan kantor kejaksaan federal, salah satu dari dua perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sabhnani mengalami pemukulan dengan tongkat, disayat atau dibeset dengan pisau, dan pada suatu ketika dipaksa untuk memakan '25 cabai yang sangat pedas'. Pihak berwenang seperti yang dilaporkan media massa AS, juga mengungkapkan bahwa kedua perempuan Indonesia mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa naik dan turun tangga sebagai hukuman, serta dipaksa mandi selama 30 kali dalam waktu tiga jam. Kasus penyekapan dan penyiksaan tersebut mulai terungkap ketika Samirah pada Minggu pagi ditemukan oleh karyawan Dunkin Donuts tengah mondar-mandir di depan kedai kopi yang berada di kawasan Syosset, sekitar 1,3 kilometer dari rumah majikannya di Muttontown.  |
 | Kejam nggak punya perasaan |
 | .sadissssss banget,mereka pantas mendapatkan hukuman seberat2nya. |
 | ouch.. so sad.. no one deserve that kind of treatment |
 | SANGAT KEJAM DAN TIDAK ADA RASA KEMANUSIAAN INI BUKAN JAMAN KOLONIAL TAPI JAMAN TECHNOLOGY YG CANGGIH http://kutv.com/topstories/local_story_136130432.html <> VIDEO HSTORY  Two Indonesian women were subjected to beatings and other abuse and forced by a couple to work in their home in a swank Long Island neighborhood without pay for several years, federal prosecutors said Tuesday.  |
 | m3nna wrote on May 20, '07 |
 | KEJAM...ORANG KALO NGGAK ADA IMANNYA MEMANG BEGITU KALI YAH...NGGAK TAU KALO HIDUP DI DUNIA INI HANYA SESAAT..MEREKA BIAR DIHUKUM DI DUNIA...ITU TIDAK SEBERAPA DI BANDINKAN DI AKHIRAT NANTI... MEREKA ITU NGGAK PUNYA PRIKEMANUSIAAN...NGGAK PUNYA HATI... |
 |
Of course this thing is not something new. These treatments are happening again and again to the poor Indonesian women who are working abroad.
Could someone stop the ones who have business in sending thousands those poor, untrained, unprotected women abroad?.
|
Comment deleted at the request of the author.
 | May 16: A multi-millionaire Indian-origin couple living in Long Island, who run an international business distributing perfume, were arrested on Tuesday by federal agents on charges of keeping two Indonesian women as slaves in their posh Muttontown home for the last several years. [1] Call it human trafficking or call it by a more blunt name, which is what it really is: slavery. In the 21st century it exists on Long Island, as evidenced by the arrests this week of a wealthy couple in Muttontown on charges of holding as slaves two Indonesian women exploited under cruel conditions as domestic workers. http://newsfeedresearcher.com/data/articles_n20/idn2007.05.18.07.57.06.html#hdng0 |
 | emng gila orang india itu .. harus di hukum seberat-beratnya... |
 | Emang gila orang india harus dihukum seberat-beratnya.. |
 | Two Indonesian women were subjected to beatings and other abuse and forced by a couple to work in their home in a swank Long Island neighborhood without pay for several years, federal prosecutors said Tuesday.
Authorities said they uncovered the abuse after one of the women was found by police wandering outside a donut shop on Sunday morning, wearing only pants and a towel.
Varsha Mahender Sabhnani, 35, and her husband Mahender Murlidhar Sabhnani, 51, were facing arraignment in U.S. District Court in Central Islip on charges they kept the two women against their will since 2002.
A federal complaint alleged the couple, who live in East Muttontown -- a tony north shore community in Nassau County -- kept the two Indonesian women in their home as domestic servants, barring the victims from leaving the house for any reason other than to bring trash to the curb.
The women said they were promised payments of $200 and $100 a month, but federal prosecutors said the women were never given money directly. One of the victim's daughters living in Indonesia was sent $100 a month, prosecutors said.
The women were subjected to beatings, scalding water thrown on them, and forced to climb up and down stairs as punishment for misdeeds. In one case, one of the women was forced to eat 25 hot chili peppers at one time.
(© 2007 CBS Broadcasting Inc. All Rights Reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten, or redistributed. The Associated Press
|
 | itu majikan perempuan bener bener serupa nenek sihir...hiiiii,enaknya di gorok kali yee apapun ber fikirlah bila ingin memukul orang,coba dahulu pukul diri sendiri,bila sakit...jangan lakukan pd orang lain |
 | itu majikan perempuan bener bener serupa nenek sihir...hiiiii,enaknya di gorok kali yee apapun ber fikirlah bila ingin memukul orang,coba dahulu pukul diri sendiri,bila sakit...jangan lakukan pd orang lain  multi-millionaire Indian-origin couple living in Long Island, who run an international business distributing perfume, were arrested on Tuesday by federal agents on charges of keeping two Indonesian women as slaves in their posh Muttontown home for the last several years. [1] Call it human trafficking or call it by a more blunt name, which is what it really is: slavery. In the 21st century it exists on Long Island, as evidenced by the arrests this week of a wealthy couple in Muttontown on charges of holding as slaves two Indonesian women exploited under cruel conditions as domestic workers.[2]
Two Indonesian women were subjected to beatings and other abuse and forced by a couple to work in their home in a swank Long Island neighborhood without pay for several years, federal prosecutors said Tuesday. Authorities said they uncovered the abuse after police found one of the women wandering outside a doughnut shop on Sunday morning, wearing only pants and a towel.[3] Alexandra Tseitlin, who represents Mahender Sabhnani, described the couple as "law-abiding citizens." A federal complaint alleged the couple, who live in East Muttontown, a tony community on Long Island's north shore, kept the two women in their home as domestic servants, barring them from leaving the house for any reason other than to take trash to the curb. The couple ran a perfume business out of their multimillion-dollar home and have factories in Asia, authorities said.[4]
Nona was found by the police in a 3' by 3' closet under the stairs. The Sabhnanis, who run a multi-million dollar perfume business out of their home and own an apartment in Manhattan, were held without bail yesterday. Their bail hearing is scheduled for tomorrow, and the U.S. Attorney says the couple is a flight risk, given their resources and family in Asia. The Sabhnanis' lawyers say that the couple have four children in the country and want to clear their names.[5]
"The conduct the defendants committed is monstrous," said Assistant U.S. Attorney Demetri Jones. "It's truly a case of modern-day slavery." Authorities said the victims' nightmare began after they were brought to the United States by the couple to work as house servants. They were told they would be paid 200 a month, although Samirah told authorities she later learned the Sabhnanis sent only half that amount to her daughter back in Indonesia.[6]
Attorney Charles A. Ross, who represents Varsha Sabhnani, called the couple "upstanding citizens'' and insisted "this is not a case of human trafficking.'' He also said the couple traveled extensively and that the two Indonesian women were free to leave whenever they wished.[7] One of the two Indonesian women was beaten by Varsha Sabhnani with a broomstick, cut behind the ears with a knife, burnt with scalding water, made to walk up and down stairs as much as 150 times in a row, and, at one point, was forced to eat "25 extremely hot chili peppers," according to Jones and Lesko. The prosecutors submitted pictures showing what they said were the bruises and cuts inflicted on one of the women.[8]
MINEOLA, N.Y. - In what a prosecutor described as a case of "modern-day slavery," a millionaire couple were arraigned Tuesday on federal charges that they kept two Indonesian women as virtual prisoners in their swank home for more than five years, beating and abusing them and paying them almost nothing.[9] NEW YORK: A multimillionaire Indian couple living in a posh locality here was arrested on the charges of keeping two Indonesian women as slaves and torturing at least one of them.[10] Federal agents again raided the mansion here of a wealthy South Asian couple who were allegedly keeping two Indonesian women as slaves for the past five years and placed the women under the care of a Catholic charity.[11]
Wibisono said it was rare for Indonesian women to work as domestics in the United States. He said he knew of one recent Boston case in which an employer was accused of treating two Indonesian domestics as slaves, and Indonesian officials helped those women get monetary damages.[12]
If convicted, each faces a sentence of between 17 to 22 years in prison. The two Indonesian women were told to hide in a 3-foot by 3-foot closet they shared with a storage chest when visitors came to the house, court papers said. They both entered the country on visas that had long since expired: "Samirah" five years ago and "Nona" two years ago. [8] The couple also have a residence in Manhattan and $1.8 million in the bank, prosecutors said. The two women, identified in court papers as Samirah and Nona, said they were promised payments of $200 and $100 a month, but federal prosecutors said they were never given money directly.[13] "No one would ever think that human beings were being brought into the U.S. and held for slave labour, beaten and tortured in a beautiful mansion right here in one of the most exclusive neighbourhoods on Long Island," said federal prosecutor Demetri Jones.[14] During the investigation, federal agents and Indonesian interpreters later discovered the slave-like conditions in the affluent Long Island home.[15] May 18, 2007 -- A Long Island couple accused of ruthlessly imprisoning a pair of immigrant servants now faces the prospect of home detention themselves.[16]
When one of the women escaped and was found wandering outside a Dunkin Donuts in Syosset on Sunday morning wearing only pants and a towel, employees called the police. The other woman was then discovered by authorities hiding in a 3-foot-by-3-foot closet under the stairs of the Sabhnani home, precisely where the couple told the two women to hide when they had visitors. [15] Authorities became involved after Samirah, 51, was found wandering near a doughnut shop by employees early Mother's Day morning, court papers said. She was wearing pants and a towel drapped around her shoulders, the papers said. Magistrate Kathleen Tomlinson held both Sabhnanis without bail pending a hearing on Wednesday.[1]
Bail for the wife was set at $2.5 million dollars and for the husband at $1 million dollars. Home detention with electronic monitoring was ordered for the couple, and their personal and business bank accounts were ordered frozen. Eight friends or business associates were in court and said they'd put up their assets to help make bail.[17] Mahender Sabhani and his wife, Varsha, who are in the perfume business, were booked in a Federal Court on the charges of using threats of physical harm to obtain services.[10] The Sabhnanis were arraigned in U.S. District Court in Central Islip on charges under a federal anti-slavery statute of obtaining "the labor and services of another person by use of threats of serious physical harm to and physical restraint against that person."[8]
U.S. District Court documents show that the couple is accused of cutting one of the women with a knife and beating her with a stick after she failed to meet their work standards.[18] The lawyer, Charles Ross, added that since the couple traveled so much, there was opportunity for the two women to flee. Interestingly, they have separate lawyers; the wife, Varsha Sabhnani, is accused of most inflicting most of the violence.[5] The reasons for the tortures included Varsha Sabhnani being unable to find an item of clothing or believing that the poorly fed women were stealing food, the prosecutors said. Her husband allowed the torture to go on and benefited from the household services of the women, according to Lesko.[8]
The sadistic crimes of which Varsha Mahender Sabhnani and her husband, Mahender Murlidhar Sabhnani, are accused, however despicable, are only a dramatic manifestation of a problem that's grown across the nation and the world. It can be found elsewhere in rising numbers, as the FBI bust last year of a massive sex slavery ring with brothels in Memphis and Nashville demonstrated. It's a worldwide phenomenon, one of the more sordid aspects of globalization.[2]
The Sabhnanis' children range in age from the late teens to 26. U.S. Magistrate Kathleen Tomlinson said that although the couple were accused of "heinous" crimes, she did not believe they would flee if she imposed rigorous bail conditions.[19] If convicted, each of the Sabhnanis face a sentence of 17-22 years in prison. The South Asian couple run a lucrative perfume distributing business from their home.[20] Home detention with electronic monitoring was ordered, and the couple's personal and business bank accounts were ordered frozen.[21]
The couple showed no reaction as the judge said the two, who are from India, are flight risks, but don't pose a danger to the community. He called claims that they took the women's passports, refused to pay them and beat them "heinous allegations." Prosecutors alleged that the two Indonesian women were beaten with broomsticks, cut behind the ears with a knife, burnt with scalding water, made to walk up and down stairs as much as 150 times in a row, and were once forced to eat 25 extremely hot chilli peppers.[20] The case came to light when one of the women, identified only as Samirah, was seen wandering Sunday morning, wearing only pants and wrapped in a towel. Her face was bruised, and when shop employees tried to communicate with her, she made gestures of slapping herself and uttering what sounded to them like the word 'master', prosecutors said. One of the victim's daughters living in Indonesia was sent $100 a month, prosecutors said.If convicted, each faces a prison term of 17 to 22 years. It is alleged that Varsha forced the two to work from 4 in the morning to midnight and at least one victim told the prosecutors that she was beaten, tortured, denied food and forced to sleep in the kitchen.
The wife is Indonesian; Mahender is from India. Varsha's cruelty included forcing Samirah to take as many as 30 ice-cold showers in a row, run up and down a flight of stairs 150 times as fast as she could - and gulp down at least 25 "extremely hot chili peppers at one time," according to the arrest warrant. The Indonesian consul general in New York, Trie Ebie Mulyani, was to meet with the women at the medical center yesterday along with federal agents and a federal Indonesian-speaking interpreter. Iwanshah Wibisono, a spokesman for the Indonesian consulate, said the consul general would offer any assistance the women needed to contact their families and other help they may need, including seeing that they receive compensation for their alleged mistreatment. The alleged incident of slavery came to light after one of the women escaped and both federal and local authorities investigated her allegations, the newspaper said.
|
 | Duh Gusti .... kenapa musti dilahirkan orang2 yang kejam, sadis, ga punya pikiran .... astaghfirullah !!!! |
 | Dua Pembantu Asal Indonesia Disiksa Majikan di New York
New York (ANTARA News) - Dua perempuan warga negara Indonesia telah menjadi korban penyiksaan serta penyekapan oleh majikannya pasangan suami isteri yang tinggal di Long Island, Nassau County, negara bagian New York, demikian diungkapkan Kantor kejaksaan New York.
Menurut laporan Associated Press, Selasa, kedua WNI yang menurut dokumen kantor jaksa bernama Samirah dan Nona, antara lain mengalami pemukulan, penyiraman dengan air panas, serta sejak selama lima tahun tidak diperbolehkan keluar rumah.
Samirah dan Nona diketahui tiba di Amerika Serikat pada tahun 2002 secara legal dengan menggunakan visa B-1 dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada Varsha Mahender Sabhnani (35) dan suaminya Mahender Murlidhar Sabhnani (51).
Pasangan Sabhnani, yang disebut-sebut warga kaya raya yang memiliki usaha di bidang parfum, dilaporkan kemudian menyita paspor Samirah dan Nona.
Laporan menyebutkan bahwa selama bekerja pada keluarga Sabhnani, kedua perempuan Indonesia itu mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa secara terus menerus menaiki dan menuruni tangga, mandi 30 kali dalam waktu tiga jam, yang semuanya dimaksudkan sebagai hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan.
Salah satu dari kedua korban juga dipaksa untuk memakan 25 cabai pedas sekaligus dan telinganya dilukai oleh pisau kecil.
Kedua perempuan WNI juga dipaksa tidur di atas keset di dapur serta kurang mendapat makanan sehingga --seperti yang dituturkan kepada pihak kejaksaan, keduanya terpaksa mencuri makanan dan menyimpannya di tempat yang tidak diketahui majikan.
Kasus itu mulai terkuak pada Minggu (13/5) ketika salah satu dari WNI terlihat mondar-mandir di depan sebuah kedai kopi di wilayah Syosset dengan hanya mengenakan celana dan sehelai handuk.
Karyawan restoran yang melihat perempuan tersebut kemudian memberikan jaket, makanan, serta memanggil polisi.
Pihak berwenang yang mengeluarkan surat perintah penggeledahan terhadap rumah Sabhnani pada hari yang sama kemudian menemukan perempuan WNI lainnya yang sedang bersembunyi di dalam lemari di bawah tangga menuju ruangan bawah tanah.
Varsha dan Mahender Sabhnani oleh Pengadilan Distrik Central Islip akan dikenai tuduhan menyekap dua WNI yang bekerja pada mereka sebagai pembantu rumah tangga dan melarang mereka keluar rumah dengan alasan apapun --kecuali membawa sampah ke pinggir jalan.
Samirah dan Nona dijanjikan gaji sebesar 200 dolar AS setiap bulan, tapi jaksa federal mengungkapkan bahwa keduanya tidak pernah diberi uang secara langsung oleh pasangan Sabhanani. Namun anak salah satu dari Samiran atau Nona yang tinggal di Indonesia dikirimi 100 dolar AS sebulan.
Hingga Selasa sore belum diperoleh keterangan lebih lanjut dari pihak KJRI New York tentang keberadaan kedua WNI tersebut.(*
New York (ANTARA News) - Dua warga negara Indonesia korban penyekapan dan penyiksaan oleh majikannya, Samirah dan Enung (sebelumnya nama Enung oleh media AS disebut 'Nona'), masih berada dalam perawatan rumah sakit di New York dan dijaga ketat pihak keamanan.
Samirah dan Enung tidak diperkenankan untuk ditemui oleh siapa pun dan pihak rumah sakit sendiri menolak memberikan keterangan menyangkut keberadaan keduanya.
ANTARA yang mendatangi RS Nassau University pada Rabu siang untuk mencari keterangan tentang Samirah dan Enung, ditemui oleh pejabat Departemen Hukum, Mark S Brody, yang mengatakan pihak rumah sakit mendapat perintah dari Kantor Kejaksaan Long Island, Nassau County, untuk tidak memberikan keterangan apa pun kepada media massa.
RS Nassau University di Nassau County, sekitar 50 kilometer dari kota New York, adalah tempat Samirah dan Enung -- sejak kedua WNI itu ditemukan pada Minggu (13/5) -- mendapatkan perawatan medis.
Brody menolak menjawab pertanyaan apakah Samirah dan Enung masih berada di RS Nassau University maupun pertanyaan tentang kondisi keduanya.
Ia hanya mengatakan kantor jaksa penuntut masih belum membolehkan 'pihak ketiga' menemui kedua WNI, karena keduanya merupakan saksi untuk kasus kejahatan yang ditengarai dilakukan oleh majikan mereka.
Sementara itu, Asisten Jaksa Penuntut Long Island-Nassau, Mark Lesko, saat ditanya ANTARA juga menolak memberikan keterangan di luar masalah tuduhan yang akan dikenakan terhadap majikan Samirah dan Enung, yaitu pasangan suami isteri Mahender Murlidhar Sabhnani (51) dan Varsha Maender Sabhnani (45).
"Dengan alasan kerahasiaan pribadi (privacy), saya tidak bisa bicara soal aspek kesehatan dalam kasus ini," ujarnya.
Yang pasti, baik Brody maupun Lesko, menekankan bahwa dua perempuan WNI yang mereka tangani telah mendapatkan perawatan medis terbaik.
Lesko juga menuturkan pasangan Sabhnani akan didakwa atas tindakan perbudakan dan mempekerjakan Samirah dan Enung `dengan menggunakan ancaman atau menyakiti secara fisik` serta melarang kedua pembantu rumah tangganya itu ke luar rumah selama bertahun-tahun.
Satu-satunya pihak yang diperbolehkan menemui Samirah adalah Konsul Jenderal RI untuk New York, Trie Edi Mulyani, yang pada Rabu pagi hingga sore hari diketahui berada di RS Nassau University dalam upaya mendapatkan akses untuk menemui Samirah dan Enung.
Satu hari sebelumnya, yaitu Selasa (15/5), pejabat bidang konsuler KJRI-New York yang mendatangi Nassau University Medical Center tidak diberi izin oleh pihak RS untuk menengok Samirah dan Enung yang sedang dirawat di RS tersebut.
Mulai membaik
Ketika dihubungi ANTARA, Trie Edi Mulyani membenarkan bahwa ia telah menemui kedua pasien namun belum sempat bercakap-cakap.
"Saya belum bisa menanyai mereka, karena ketika tadi akhirnya saya bisa temui, dua-duanya sedang tidur lelap, mukanya terlihat sangat lelah," kata Trie.
Ia mengatakan Samirah dan Enung dalam keadaan baik dan sudah tidak terlihat lagi tanda-tanda bekas penyiksaan di tubuh mereka.
Menurut informasi yang dikumpulkan ANTARA dari berbagai sumber, Samirah dan Enung sudah dapat meninggalkan rumah sakit dalam satu atau dua hari mendatang.
Kemudian mereka akan dipindahkan ke sebuah rumah di bawah pengawasan gugus tugas Departemen Kehakiman AS yang menangani masalah penyelundupan manusia.
Pasangan Sabhnani yang disebut media massa AS sebagai multi jutawan yang memiliki bisnis internasional di bidang parfum dan dikendalikan dari kediaman mereka di kawasan elit Muttontown, Long Island, sejak Minggu hingga Rabu masih ditahan oleh polisi dan kemungkinan diancam hukuman penjara selama 17 hingga 22 tahun.
Menurut pemantauan di lapangan, kediaman pasangan Sabhnani yang terletak di Jalan Coachman Place East No 205 maupun kompleks rumah mewah di Muttontown sendiri pada Rabu sepi, nyaris tidak terlihat warga yang berada di luar rumah.
Salah satu warga yang tinggal di kompleks Muttontown, Phyllis Danzig, yang ditanyai ANTARA mengaku sudah mendengar kasus penyekapan dan penyiksaan seperti yang diberitakan oleh berbagai media massa AS.
"Tapi saya tidak kenal mereka ini (pasangan Sabhanani, red)," katanya.
Rumah Sabhnani, kendati terlihat sepi, di halaman sampingnya terlihat tiga mobil diparkir, yaitu Mercedes Benz 550, Cadillac Escalade dan Toyota SUV, semuanya berwarna hitam.
Kompleks Muttontown terletak sekitar 23 kilometer dari RS Nassau University.
Tak mengira
Jaksa penuntut umum yang bersama-sama Mark Lesko menangani kasus penyekapan dan penyiksaan Samirah dan Enung, seperti dikutip Newsday.com mengatakan "Tidak ada yang mengira bahwa ada manusia yang dibawa ke Amerika Serikat dan dipekerjakan sebagai budak, dipukuli, disiksa di kediaman yang indah di sini, di salah satu kompleks paling eksklusif di Long Island".
Menurut dokumen pengadilan yang dikeluarkan kantor kejaksaan federal, salah satu dari dua perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sabhnani mengalami pemukulan dengan tongkat, disayat atau dibeset dengan pisau, dan pada suatu ketika dipaksa untuk memakan '25 cabai yang sangat pedas'.
Pihak berwenang seperti yang dilaporkan media massa AS, juga mengungkapkan bahwa kedua perempuan Indonesia mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa naik dan turun tangga sebagai hukuman, serta dipaksa mandi selama 30 kali dalam waktu tiga jam.
Kasus penyekapan dan penyiksaan tersebut mulai terungkap ketika Samirah pada Minggu pagi ditemukan oleh karyawan Dunkin Donuts tengah mondar-mandir di depan kedai kopi yang berada di kawasan Syosset, sekitar 1,3 kilometer dari rumah majikannya di Muttontown.
Kepada manajer Dunkin Donuts Adrian Mohammed -- yang kemudian memberinya jaket, donat, bagel, dan uang -- sempat memperlihatkan bekas-bekas penyiksaan ditubuhnya, seperti sisa siram air panas di tangannya serta bekas sobekan pisau di kulit telinga.
Adrian kemudian memanggil polisi yang tak lama kemudian beserta ambulans datang membawa Samirah ke rumah sakit sementara Enung ditemukan kemudian setelah pihak berwenang mengadakan penggeledahan terhadap rumah Sabhnani pada hari yang sama. (*)
|
 | kejeeeeeeeeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmmmmm jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttt bgt tuch org india yee gillaaaaaaaa sadis bgt ular bgt, astaghfirullah......... |
 | New York (ANTARA News) - Dua warga negara Indonesia korban penyekapan dan penyiksaan oleh majikannya, Samirah dan Enung (sebelumnya nama Enung oleh media AS disebut 'Nona'), masih berada dalam perawatan rumah sakit di New York dan dijaga ketat pihak keamanan. Samirah dan Enung tidak diperkenankan untuk ditemui oleh siapa pun dan pihak rumah sakit sendiri menolak memberikan keterangan menyangkut keberadaan keduanya. ANTARA yang mendatangi RS Nassau University pada Rabu siang untuk mencari keterangan tentang Samirah dan Enung, ditemui oleh pejabat Departemen Hukum, Mark S Brody, yang mengatakan pihak rumah sakit mendapat perintah dari Kantor Kejaksaan Long Island, Nassau County, untuk tidak memberikan keterangan apa pun kepada media massa. RS Nassau University di Nassau County, sekitar 50 kilometer dari kota New York, adalah tempat Samirah dan Enung -- sejak kedua WNI itu ditemukan pada Minggu (13/5) -- mendapatkan perawatan medis. Brody menolak menjawab pertanyaan apakah Samirah dan Enung masih berada di RS Nassau University maupun pertanyaan tentang kondisi keduanya. Ia hanya mengatakan kantor jaksa penuntut masih belum membolehkan 'pihak ketiga' menemui kedua WNI, karena keduanya merupakan saksi untuk kasus kejahatan yang ditengarai dilakukan oleh majikan mereka. Sementara itu, Asisten Jaksa Penuntut Long Island-Nassau, Mark Lesko, saat ditanya ANTARA juga menolak memberikan keterangan di luar masalah tuduhan yang akan dikenakan terhadap majikan Samirah dan Enung, yaitu pasangan suami isteri Mahender Murlidhar Sabhnani (51) dan Varsha Maender Sabhnani (45). "Dengan alasan kerahasiaan pribadi (privacy), saya tidak bisa bicara soal aspek kesehatan dalam kasus ini," ujarnya. Yang pasti, baik Brody maupun Lesko, menekankan bahwa dua perempuan WNI yang mereka tangani telah mendapatkan perawatan medis terbaik. Lesko juga menuturkan pasangan Sabhnani akan didakwa atas tindakan perbudakan dan mempekerjakan Samirah dan Enung `dengan menggunakan ancaman atau menyakiti secara fisik` serta melarang kedua pembantu rumah tangganya itu ke luar rumah selama bertahun-tahun. Satu-satunya pihak yang diperbolehkan menemui Samirah adalah Konsul Jenderal RI untuk New York, Trie Edi Mulyani, yang pada Rabu pagi hingga sore hari diketahui berada di RS Nassau University dalam upaya mendapatkan akses untuk menemui Samirah dan Enung. Satu hari sebelumnya, yaitu Selasa (15/5), pejabat bidang konsuler KJRI-New York yang mendatangi Nassau University Medical Center tidak diberi izin oleh pihak RS untuk menengok Samirah dan Enung yang sedang dirawat di RS tersebut. Mulai membaik Ketika dihubungi ANTARA, Trie Edi Mulyani membenarkan bahwa ia telah menemui kedua pasien namun belum sempat bercakap-cakap. "Saya belum bisa menanyai mereka, karena ketika tadi akhirnya saya bisa temui, dua-duanya sedang tidur lelap, mukanya terlihat sangat lelah," kata Trie. Ia mengatakan Samirah dan Enung dalam keadaan baik dan sudah tidak terlihat lagi tanda-tanda bekas penyiksaan di tubuh mereka. Menurut informasi yang dikumpulkan ANTARA dari berbagai sumber, Samirah dan Enung sudah dapat meninggalkan rumah sakit dalam satu atau dua hari mendatang. Kemudian mereka akan dipindahkan ke sebuah rumah di bawah pengawasan gugus tugas Departemen Kehakiman AS yang menangani masalah penyelundupan manusia. Pasangan Sabhnani yang disebut media massa AS sebagai multi jutawan yang memiliki bisnis internasional di bidang parfum dan dikendalikan dari kediaman mereka di kawasan elit Muttontown, Long Island, sejak Minggu hingga Rabu masih ditahan oleh polisi dan kemungkinan diancam hukuman penjara selama 17 hingga 22 tahun. Menurut pemantauan di lapangan, kediaman pasangan Sabhnani yang terletak di Jalan Coachman Place East No 205 maupun kompleks rumah mewah di Muttontown sendiri pada Rabu sepi, nyaris tidak terlihat warga yang berada di luar rumah. Salah satu warga yang tinggal di kompleks Muttontown, Phyllis Danzig, yang ditanyai ANTARA mengaku sudah mendengar kasus penyekapan dan penyiksaan seperti yang diberitakan oleh berbagai media massa AS. "Tapi saya tidak kenal mereka ini (pasangan Sabhanani, red)," katanya. Rumah Sabhnani, kendati terlihat sepi, di halaman sampingnya terlihat tiga mobil diparkir, yaitu Mercedes Benz 550, Cadillac Escalade dan Toyota SUV, semuanya berwarna hitam. Kompleks Muttontown terletak sekitar 23 kilometer dari RS Nassau University. Tak mengira Jaksa penuntut umum yang bersama-sama Mark Lesko menangani kasus penyekapan dan penyiksaan Samirah dan Enung, seperti dikutip Newsday.com mengatakan "Tidak ada yang mengira bahwa ada manusia yang dibawa ke Amerika Serikat dan dipekerjakan sebagai budak, dipukuli, disiksa di kediaman yang indah di sini, di salah satu kompleks paling eksklusif di Long Island". Menurut dokumen pengadilan yang dikeluarkan kantor kejaksaan federal, salah satu dari dua perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Sabhnani mengalami pemukulan dengan tongkat, disayat atau dibeset dengan pisau, dan pada suatu ketika dipaksa untuk memakan '25 cabai yang sangat pedas'. Pihak berwenang seperti yang dilaporkan media massa AS, juga mengungkapkan bahwa kedua perempuan Indonesia mengalami pemukulan, disiram dengan air panas, dipaksa naik dan turun tangga sebagai hukuman, serta dipaksa mandi selama 30 kali dalam waktu tiga jam. Kasus penyekapan dan penyiksaan tersebut mulai terungkap ketika Samirah pada Minggu pagi ditemukan oleh karyawan Dunkin Donuts tengah mondar-mandir di depan kedai kopi yang berada di kawasan Syosset, sekitar 1,3 kilometer dari rumah majikannya di Muttontown. Kepada manajer Dunkin Donuts Adrian Mohammed -- yang kemudian memberinya jaket, donat, bagel, dan uang -- sempat memperlihatkan bekas-bekas penyiksaan ditubuhnya, seperti sisa siram air panas di tangannya serta bekas sobekan pisau di kulit telinga. Adrian kemudian memanggil polisi yang tak lama kemudian beserta ambulans datang membawa Samirah ke rumah sakit sementara Enung ditemukan kemudian setelah pihak berwenang mengadakan penggeledahan terhadap rumah Sabhnani pada hari yang sama. (*) Breaking News Indonesian Women To Physical Abuse by Multimillionairehttp://www.newsday.com/news/local/ny-bzslav1024,0,3063917.story?track=rsshttp://www.newsday.com/business/ny-muttontown-slavery-pg,0,3335811.photogallery |
 | Big collection Popular Tracks "Near 125.000" Has Been Shared on Toplala |
| |